Tampilkan postingan dengan label Kilau Mutiara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kilau Mutiara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Februari 2012

Hidup Bersama Allah


...Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya andaikata sekelompok orang bersatu untuk mendatangkan sesuatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan andaikata mereka bersatu untuk mendatangkan sesuatu yang mencelakakanmu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali musibah yang memang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering. (HR. Tirmidzi)
Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya dihadapanmu. Kenalilah Allah di waktu senggang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu, tidaklah akan menimpamu. Dan apa yang ditetapkan akan menimpamu, tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, dan kemudahan itu bersama kesulitan, dan bersama kesulitan ada kemudahan.

Senin, 05 September 2011

Ilmu

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, katanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda: 
“Allah tidak menarik kembali ilmu dengan jalan mencabutnya dari qalb manusia, 
tetapi dengan jalan mematikan ulama. Apabila ulama telah punah, 
maka masyarakat akan mengangkat orang-orang bodoh menjadi
pemimpin yang akan dijadikan tempat bertanya. 
Orang-orang bodoh ini akan berfatwa tanpa ilmu; 
mereka itu sesat dan menyesatkan.”



*Teriring doa untuk Abah Anom..

Senin, 08 Agustus 2011

Air Mata Pembaca Alqur'an




Dalam sejarah kehidupan generasi awal Islam, banyak kita temui kisah-kisah tentang kelembutan hati dimana mereka sering menangis ketika membaca dan mendengarkan Al-Qur'an. Hati mereka begitu mudah tersentuh karena keimanan yang telah begitu kuat mengakar di dalam dada. Berikut ini beberapa kisah tentang figur-figur itu :

1. Abu Bakar Ash-Shidiq Radhiallahu Anhu
Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya bahwa ketika sakit Rasulullah shalallahu alaihi wa salam semakin keras, beliau ditanya tentang shalat. Lalu beliau menjawab, "Suruhlah Abu Bakar mengimami orang-orang."
Aisyah berkata, "Sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang sangat lembut. Bila dia membaca Al-Qur'an, maka dia tidak kuasa menahan tangis." Lalu Nabi shalallahu alaihi wa salam berkata, "Suruhlah dia mengimami shalat." Lalu Aisyah mengulangi perkataannya. Nabi Shalallahu Alaihi wa Salam pun berkata, "Suruh dia mengimami shalat. Sesungguhnya kalian (seperti) pengikut Yusuf."

2. Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu
Abdullah bin Syidad berkata, "Aku mendengar tangisan sedu sedan Umar saat aku di barisan belakang, yaitu ketika dia membaca, 'Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.'." (HR. Bukhari).
Diriwayatkan dari Ubaid bin Umair, ia berkata, "Umar mengimami kami shalat Subuh, lalu dia membaca surat Yusuf pada rakaat pertama. Ketika sampai pada ayat, 'Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).' (QS. Yusuf : 84), beliau menangis hingga berhenti lalu ruku."

3. Abdurrahman bin Auf Radhiallahu Anhu
Diriwayatkan dari Sa'ad bin Ibrahim, dia berkata, "Abdurrahman bin Auf diberi makan malam saat dia berpuasa. Lalu dia membaca firman Allah subhanahu wa ta'ala, "Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang bernyala-nyala, dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan adzab yang pedih." (QS. Al-Muzammil : 12-13). Setelah itu dia terus-menerus menangis hingga makan malamnya dibereskan, sedangkan (siang harinya) dia benar-benar puasa."

4. Aisyah Radhiallahu Anha
Diriwayatkan dari Qasim (keponakan Aisyah), ia berkata, "Apabila aku pergi pada pagi hari, maka aku selalu memulai keberangkatanku dari rumah Aisyah untuk mengucapkan salam kepadanya. Pada suatu hari aku pergi dan ternyata dia sedang berdiri sambil membaca tasbih dan ayat, "Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari adzab neraka." (QS. Ath-Thuur : 27). Dia berdoa, menangis, dan mengulang-ulang ayat tersebut. Lalu aku berdiri hingga aku jenuh berdiri. Lalu aku pergi ke pasar untuk mencari kebutuhanku. Ketika aku kembali, ternyata Aisyah Radhiallahu Anha masih berdiri seperti semula sambil melakukan shalat dan menangis."

5. Abu Hurairah Radhiallahu Anhu
Diriwayatkan dari Sulaiman bin Muslim bin Jammaz, "Aku mendengar Abu Ja'far berkata kepada kami tentang bacaan Abu Hurairah radhiallahu anhu pada ayat, "Apabila matahari digulung." (QS. At-Takwiir : 1). Beliau sangat tersayat hatinya ketika mendengar ayat tersebut, hingga terkadang menangis dengan ratapan.

6. Abdullah bin Rawahah Radhiallahu Anhu
Diriwayatkan dari Qais bin Abu Hazim, ia berkata, "Abdullah bin Rawahah menangis, lalu istrinya ikut menangis. Lalu dia bertanya kepada istrinya, 'Apa yang membuatmu menangis?' Istrinya menjawab, 'Aku melihatmu menangis maka aku pun ikut menangis.' Dia kemudian berkata, 'Aku teringat dengan ayat ini, "Dan tidak ada seorang pun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu." (QS. Maryam : 71). Aku tahu bahwa aku pasti akan memasuki neraka, tetapi aku tidak tahu apakah aku akan selamat dari neraka.'."

7. Abdullah bin Umar Radhiallahu Anhu
Diriwayatkan dari Qasim bin Abu Bazzah, ia berkata, "Aku diberitahu oleh orang yang mendengar Ibnu Umar radhiallahu anhu membaca ayat, "Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?." (QS. Al-Muthaffifiin : 1-6). Ibnu Umar lalu menangis hingga tersungkur, dan setelah itu ia enggan untuk membaca ayat tersebut."

8. Ibnu Abbas Radhiallahu Anhu
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abi Mulaikah, dia berkata, "Aku menemani Ibnu Abbas radhiallahu anhu dari Mekah ke Madinah. Jika singgah di suatu tempat, maka dia selalu bangun pada separuh malam." Lalu Ayyub bertanya kepadanya, "Bagaimana bacaannya?" Abdullah menjawab, "Dia membaca, "Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya." (QS. Qaaf : 19). Dia membacanya dengan tartil dan sering menangis terisak-isak."

9. Umar bin Abdul Aziz
Diriwayatkan dari Ibnu Abi Dzaib, ia berkata, "Aku diberitahu oleh seseorang yang sempat menyaksikan Umar bin Abdul Aziz sebagai gubernur Madinah, bahwa seorang laki-laki membacakan ayat ini kepadanya, "Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan." (QS. Al-Furqaan : 13). Lalu Umar bin Abdul Aziz menangis hingga tidak dapat mengendalikan tangisnya dan isakannya pun menjadi keras. Lalu dia berdiri dari tempat duduknya dan masuk ke rumah."

10. Hasan Al-Bashri
Diriwayatkan dari Salam bin Abu Muthi', ia berkata, "Hasan diberi segelas air untuk berbuka puasa. Ketika dia mendekatkan air itu ke mulutnya, dia menangis dan berkata, 'Aku ingat harapan besar dari para penghuni neraka dan ucapan mereka, 'Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu.' Aku pun teringat jawabannya kepada mereka, "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir." (QS. Al-A'raaf : 50)."

11. Abu Hanifah
Muhammad bin sama'ah meriwayatkan dari Muhammad bin Hasan, dari Qasim bin Ma'an, bahwa Abu Hanifah bangun malam sambil mengulang-ulang firman Allah subhanahu wa ta'ala, "Sebenarnya hari Kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit." (QS. Al-Qamar : 46). Dia menangis dan tadharru' (merendahkan diri) hingga Subuh.



Demikianlah kisah pribadi-pribadi itu, yang mencerminkan kondisi jiwa mereka yang takut akan kebesaran Allah subhanahu wa ta'ala, kisah yang merupakan cerminan dari kejujuran hati yang dipenuhi cahaya keimanan. Semoga kita bisa menjadikannya sebagai teladan.


Kotasantri.com
Penulis : Ratu Karitasurya

Rabu, 22 Juni 2011

Kerinduan

Suatu saat Nabi Muhammad bertanya pada para Sahabat dan pengikutnya, “Wahai Manusia, siapakah makhluk Allah yang imannya paling menakjubkan (man a ’jabul khalqi imanan)?”
Para sahabat langsung menjawab, “Malaikat!”.
Nabi menukas, “Bagaimana mungkin para malaikat tidak berimaan sedangkan mereka pelaksana perintah Allah?”
Sahabat menjawab lagi, “Kalau begitu, para Nabilah yang imannya paling menakjubkan!”.
“Bagaimana mungkin para Nabi tidak beriman, sedangkan wahyu turun kepada mereka!”, Sahut Nabi.
Untuk ketiga kalinya para Sahabat mencoba untuk memberikan jawaban, “Kalau begitu sahabat-sahabatmu ya Rasul!”.
Nabi pun menolak jawaban itu dengan berkata, “Bagaimana mungkin sahabat-sahabatku tidak beriman, sedangkan mereka menyaksikan sendiri apa yang mereka saksikan”.
Nabi pun lalu meneruskan kalimatnya, “Orang yang imannya paling menakjubkan adalah kaum yang akan datang sesudah kalian.
Mereka beriman kepadaku walaupun mereka tidak melihatku.
Mereka membenarkan aku tanpa pernah melihatku.
Mereka amalkan apa yang ada dalam tulisan itu (Quran dan Hadits).
Mereka bela aku seperti kalian membela aku.
Alangkah ingin berjumpanya aku dengan ikhwanku itu”.

Rasulullah Saw. berwashiyah kepada Abu Hurairah ra,
“Wahai Abu Hurairah, hendaklah engkau mengikuti jalan suatu kaum, yang jika manusia merasa takut, mereka tidak takut.
Jika manusia mencari keselamatan dari api neraka, mereka tidak takut“
Abu Hurairah ra bertanya, “Siapakah mereka itu yaa Rasulullah, terangkan dan jelaskanlah ihwal mereka itu kepadaku hingga aku dapat mengenali mereka“
Rasulullah Saw. menjawab, “Mereka itu suatu kaum dari umatku di akhir zaman. Kelak mereka berkumpul pada Hari Qiyamah di tempat berkumpulnya para Nabi.
Jika manusia memandang mereka, manusia mengira bahwa mereka itu para Nabi dari keadaan yang mereka lihat, hingga aku beritahukan kepada mereka.
Aku katakan ‘Umatku, umatku’ Maka para makhluk mengetahui bahwa mereka bukanlah para Nabi.
Mereka bagaikan kilat dan angin, pandangan mata yang hadir terkesiap dengan pancaran cahaya mereka“
Abu Hurairah ra berkata, “Yaa Rasulullah, kemukakan kepadaku amalan-amalan mereka, mudah-mudahan aku dapat mengikuti mereka“
Rasulullah Saw. menjawab, “ Wahai Abu Hurairah, kaum itu menempuh suatu jalan yang sangat terjal hingga sampai kepada tingkatan para Nabi. Mereka memilih lapar setelah Allah memberi mereka rasa kenyang, memilih telanjang setelah Allah memberi mereka pakaian, dan memilih haus setelah Allah memberi mereka rasa puas. Mereka meninggalkan itu semua karena mengharap apa yang ada di sisi-Allah. Mereka meniggalkan yang halal karena takut dengan Hisab. Mereka mempergaulinya dengan badan-badan (lahiriyah) mereka, tetapi mereka tidak menyibukkan diri dengan suatu apapun darinya. Para Nabi dan para Malaikat takjub dengan ketaatan mereka kepada Allah. Kebahagiaan bagi mereka, kebahagiaan bagi mereka, aku sangat ingin agar Allah menghimpunkan aku bersama mereka ”
Kemudian Rasulullah Saw. menangis karena rindu kepada mereka.
Lalu beliau Saw. berkata, “Jika Allah hendak mengazab penghuni bumi, lalu memandang mereka, maka Dia berpaling dan tidak jadi menurunkan azab. Hendaklah engkau, wahai Abu Hurairah, mengikuti jalan mereka. Barang siapa berpaling dari jalan mereka, maka ia akan kelelahan dalam kerasnya
Hisab”

Umati... Umati... Umati...!!!! Itulah perkataan terakhir beliau.

Shalawat dan salam untuk junjungan kita, sirajan muniraa al najmi al hawaa Muhammad Rasulullah.
Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang dirindukan Beliau.